Diskusi Arsip Keluarga

Berikut saya rangkumkan kultwit tentang Arsip Keluarga dari twitter saya (@rinaarsip). Jika berkenan, silakan dievaluasi. Terima kasih.

1. Klo diperhtikn, kesadarn arsip di Indonesia, sudh ml kliatan sdikit ada pningkatan. slh satuny adany Idenesia

2. InsyaAllah tmn2 psti sudh bnyak yg tahu sepak terjang mrka. itu dlm skup besar. bgmana dg skup kluarga, t4 dmna sgl sstuny dimulai?

3. Mnurut analisis slh satu dosen sy, blum bnyak kluarga Indonesia yg mmiliki ksadarn arsip

4. Mngapa?slh satu pnyebab yg pling klasik adl kurng memahami arti pnting arsip

5. Sbagian bsar org mnganggp arsip hnya ada di kantor. pdhl klo dicermati, stiap qta, sbg pribadi maupun anggota kluarga, jg mnghasilkn arsip

6. Apa saja arsip yg hmpir dipastikn dihasilkn/dimiliki msg2 kluarga?

7. sbgai contoh: ijazah sekolah-kulyah, KK (kartu keluarga), piagam&sertifikt pnghargaan, akta kelahiran, surat tanah

8. bahkan kuitansi pmbelian barang2 rumah tangga maupun struk belanja yg sllu dibawa ibu2, itupun dpt dikategorikn sbg #ArsipKeluarga

9.bs jd sbgian dr qta brtanya2, ngapain nyimpen2 struk2 blanja smpe kuitansi?menuh2in aja.

10. dlm manajemen rumah tangga, jg trkait jg dg manajemen finansial. bgmn qta mngelola keuangn kluarga, atw keuangn pribdi sbg anggota kluarga

11. nah, struk2 belanja smpe kuitansi td dpt mjdi media evaluasi ats manajemen finansial yg dijalnkn suatu kluarga

12. jk dirasa besar pasak dripda tiang, qta dpt mlihat ulang, blanja apa saja yg mnyebabkn itu, tentu sj dri struk2 blanja&kuitansi, bukn?

13. dlm hal ini, arsip brfungsi sbg alat bukti kerja manajemen. baik manaj. kluarga, bhkan hingg manaj. brnegara

14.lantas bgmana bntuk sederhana dri kesadrn akn pntigny #ArsipKeluarga?

15. Bntuk sderhana yg dpt lgsg diterapkn adl dg mnyimpan #ArsipKeluarga dg cara yg baik&benar shg tdk mudh hilang&mudh ditemu balik

16. konkretnya?dkluarga sy, ayah sllu mnyediakn tmpat khusus utk dokumen2 smcm akta kelahiran, ijazah2 skluarga, surat tanah, dll dlm sbuah map

17. tntu saja bukn map yg bnyak ditemui di tukang fotokopian krna map tsb hnya brsifat smntara&tdk than lama skaligus makan tmpat

18. map yg kami gunakan adl smcm Document Keeper dri bahan spti yg digunakn pd sampul buku agenda. didlmny dpt mmuat arsip2 kluarga yg sy sbutkn

19. Urutan dlm map tsb dpt disesuaikn dg kbutuhan msg2 kluarga. krna msg2 kluarga psti mmiliki urutan pioritas yg brbda2 dlm pnggunaan arsipny

20.Dg mnyimpan #ArsipKeluarga secara rapi&rutin, insyaAllah ktka ada mslh yg mmbutuhkn pmbuktian arsip, qta tdk prlu khawatr lg

21. krna #ArsipKeluarga qta sudh trsimpan dg rapi&trjaga dari sgla bntuk tindak pncurian, insyaAllah…

22. Mmulai kdisiplinan&krapian dlm #ArsipKeluarga, maka qta akn trbiasa rapi&disiplin dlm tata administrasi lain saat di masyarakat, insyaAllah


Dokumen Pemilu di Kupang Musnah

Kantor Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kupang, NTT, musnah terbakar, Selasa (7/2) pukul 06.00 WITA. Semua dokumen pemilihan umum tahun 2004 dan 2009 ludes.

Sumber api yang melalap bangunan berlantai dua itu diduga dari hubungan pendek arus listrik. Nilai kerugian fisik diperkirakan mencapai Rp 300 juta. Kehilangan atas arsip dokumen pemilu itu bakal merepotkan jika anggota legislatif yang terpilih melalui Pemilu 2004 dan 2009 mengalami masalah hukum.

Sebagian besar kantor pemerintahan Kabupaten Kupang sudah pindah ke kantor baru di Oelamasi, sekitar 40 kilometer dari kota Kupang. Namun, beberapa kantor masih berada di kota Kupang, seperti kantor DPRD, KPUD NTT, PDAM dan kantor Panwaslu. Juru Bicara KPUD NTT Djidon Dehan di Kupang, Selasa, mengatakan bahwa sesuai rencana pada Kamis (9/2) kantor KPUD Kabupaten Kupang pindah bersamaan dengan Gedung DPRD Kabupaten Kupang ke lokasi baru di Oelamasi.

“Tidak ada satu pun dokumen fisik diselamatkan”, kata Dehan.

Dokumen pemilu legislatif dan pilkada Bupati Kupang yang dilakukan secara bersamaan pada tahun 2004 dan 2009 ludes terbakar, seperti, data parta politik, kuitansi, pas foto serta lembaran-lembaran lamaran dari calon bupati dan calon anggota DPRD. Semua sarana komputer, printer, lemari kantor dan lain-lainnya ikut terbakar. “Memang kami dari provinsi masih punya data itu, tetapi hanya berupa angka yang tersimpan di komputer. Namun, dokumen fisik seperti lembaran lamaran dan sejenisnya tidak bisa diselamatkan lagi. Dokumen fisik ini penting bila terjadi masalah administrasi dan hukum pada anggota legislatif yang sudah terpilih”, katanya.

Sebagian besar bangunan kantor berlantai dua itu sudah lapuk. Bagian lantai dua itu sendiri sudah terbangun dari bahan kayu. Kantor dinas perindustrian dan perdagangan yang merupakan satu atap dengan KPUD sudah pindah ke lokasi baru, di Oelamasi.

Kebakaran serupa menimpa Kantor KPUD Timor Tengah Utara (TTU) dan kantor Badan Perlindungan Masyarakat TTU, Senin. Semua sarana dan prasarana kantor itu ludes.

Sumber: Kompas cetak, Rabu 8 Februari 2012, halaman Nusantara kolom I


Hobi yang Memupus Penantian Panjang

Bagi keluarga prajurit yang hilang di medan perang, ada penantian panjang untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada orang-orang yang mereka cintai. Kepastian tentang apa yang terjadi terhadap mereka, dan di mana mereka berada saat ini, akan memupus penantian panjang itu dan membawa kedamaian.

Namun, hal itu sama sekali tak terpikir oleh Shaharom Ahmad (37) dan teman-temannya saat memulai hobi mereka melacak reruntuhan pesawat peninggalan Perang Dunia II di wilayah Malaysia tahun 1996.

Sebagai peminat sejarah militer, Shaharom dan lima temannya tertantang mencari bangkai pesawat-pesawat militer yang hilang pada masa itu. Bahkan, hingga saat ini, hampir 70 tahun setelah perang itu berakhir, masih ada sedikitnya 100 bangkai pesawat milik Amerika Serikat dan Inggris yang tersebar di wilayah India, Thailand dan Malaysia yang belum ditemukan. Itu belum terhitung pesawat-pesawat milik Jepang.

Dengan berbekal informasi lokasi terakhir pesawat yang dilaporkan dalam arsip-arsip perang, ia dan teman-temannya memulai perjalanan ke berbagai lokasi yang diperkirakan menjadi tempat jatuhnya pesawat, baik karena kecelakaan maupun ditembak musuh. Mereka menempuh perjalanan berhari-hari, kadang menembus rawa-rawa atau hutan rimba di lereng pegunungan.

Setelah ditemukan, situs-situs jatuhnya pesawat itu tak mereka ganggu. Mereka hanya mengambil foto lokasi dan detail reruntuhan pesawat, kemudian mengunggahnya ke laman mereka di mhg.mymalaya.com. Foto-foto tersebut kemudian akan tersebar dan dibahas di kalangan para peminat sejarah militer dari seluruh dunia. “Dalam hitungan hari, bahkan jam, kami bisa mengidentifikasi reruntuhan pesawat itu, dan bahkan berkomunikasi dengan keluarga para pilot yang hilang selama bertahun-tahun, dan memberi tahu mereka kami telah menemukan jasad-jasad orang-orang yang mereka cintai”, tutur shaharom, yang sehari-hari bekerja di bagian teknik kantor berita Bernama itu.

Pengalaman emosional dengan keluarga para penerbang yang hilang ini membuat Shaharom dan kawan-kawannya semakin semangat menekuni kegiatan mereka. Dalam sepuluh tahun terakhir, mereka tela menjalani 40 ekspedisi. Ekspedisi yang berbiaya seadanya dari sumbangan pribadi orang-orang yang seminat dengan mereka itu, berhasil menemukan 30 reruntuhan pesawat di tujuh lokasi dari sekitar 15-20 lokasi yang disebutkan dalam arsip AS dan Inggris.

Pada 2006, mereka menemukan puing-puing pesawat pengebom B-24 LIberator milik Inggris yang masih berisi jasad para awaknya. “Kami mencari bangkai pesawat yang ada di Malaysia dan membantu mengidentifikasi agar pihak keluarga bisa memupus penantian panjang mereka selama 60 tahun”, tutur Shaharom.

Sumber: Kompas cetak, Selasa 7 Februari 2012 halaman Internasional kolom III

 


Sadar Arsip, Sadar Masa Depan

Kepahaman menimbulkan kesadaran untuk berbuat sesuatu. Hal itu juga berlaku di bidang kearsipan. Bagi sebagian besar orang, terutama mahasiswa, masih saja ada yang belum paham apa itu arsip. Jadi jangan heran kalau tertib administrasi dan dokumentasi di kalangan mahasiswa, bahkan di kalangan aktivis mahasiswa masih kacau balau. Kesadaran akan pentingnya arsip, yang sudah berbusa-busa disampaikan pihak ANRI, hingga para pejabat negara dan tokoh nasional mungkin belum terdengar sampai ke telinga kawan-kawan aktivis.

Sadar arsip yang pernah dikampanyekan ANRI, pada dasarnya menjadi upaya untuk menyadari masa depan seperti apa yang kita kehendaki. Arsip bukan sekedar salah satu barang sejarah yang hanya disimpan lantas hanya diperlukan ketika pameran-pameran atau penelitian. Jika kita membuka arsip, kita tidak sekedar membaca sejarah atau masa yang telah lewat, tapi juga berupaya meraba masa depan. Arsip dapat menjadi peta atau panduan dalam memutuskan berbagai kebijakan organisasi, apapun dimanapun. Jadi janganlah heran ketika ada yang menanyakan, “bisa lihat arsip tahun lalu?”. Karena bisa jadi ia tidak ingin mengulang kesalahan atau kebijakan yang keliru atau mungkin belum sempat terlaksana padahal punya manfaat yang besar bagi manajemen organisasi.

Bagi sebagian orang akan beranggapan bahwa bidang kearsipan tidak memperlihatkan kontribusi konkret layaknya bidang ilmu lain. Bidang kearsipan tidak langsung menjawab kebutuhan masyarakat. Tapi kemudian, bukan berarti para insan kearsipan tidak peduli dengan persoalan-persoalan masyarakat. Seperti yang sudah saya singgung diatas, bidang kearsipan erat kaitannya dengan masalah kebijakan, regulasi. Jika kebijakan-kebijakan yang  dihasilkan tidak menimbulkan masalah, sangat mungkin pembuat kebijakan itu cerdas dalam membaca dan mengelola sistem kearsipannya.

Sekali lagi, belajar arsip bukan hanya belajar sejarah, tapi juga belajar mengelola dan merancang masa depan bangsa.

Salam arsiper!


Karya Ilmiah vs Kelulusan

Mahasiswa, selain identik dengan kekritisan pemikiran dan dinamika pergerakan dalam memandang masalah-masalah sosial dan kenegaraan, juga terkait erat dengan tulisan-tulisan ilmiah, atau biasa disebut karya ilmiah. Karya ilmiah yang dihasilkan seorang mahasiswa dapat menjadi barometer pemahamannya atas suatu bidang ilmu yang tengah ia pelajari. Karya ilmiah bukan merupakan hasil tulisan imajinatif layaknya cerita-cerita fiksi, tapi ia memuat data dan fakta serta keobjektifan dan kebenarannya harus dapat dipertanggungjawabkan secara keilmiahan. Penjelasan dalam karya ilmiah menggunakan bahasa yang lugas, jelas dan tidak ambigu, bukan bahasa sastrawi yang tidak jarang memiliki makna ganda, tergantung penafsiran masing-masing individu. Adapun jenis-jenis karya ilmiah antara lain kertas kerja, artikel, skripsi, tesis, disertasi dan laporan.

Beberapa waktu yang lalu, dunia pendidikan tinggi dikejutkan dengan munculnya surat edaran dari dikti yang mewajibkan akademisi perguruan tinggi baik swasta maupun negeri untuk membuat publikasi karya ilmiah sebagai syarat kelulusannya. Keputusan yang memang menuai pro dan kontra. Pihak pro berpendapat bahwa dengan keputusan tersebut harapannya menjadi pemacu bagi mahasiswa agar meramaikan jurnal-jurnal ilmiah dengan perkembangan ilmu pengetahuan dengan karya tulis. Diakui juga oleh salah satu rektor perguruan tinggi di Malang dalam pemberitaan di Kompas.com bahwa tidak semua lulusan sarjana mampu menulis. Beliau juga berpendapat bahwa minimnya budaya menulis di kalangan mahasiswa juga karena faktor plagiarism yang sudah mengakar. Budaya plagiarism semakin kental dengan adanya kemudahan dari mesin pencari Google. Mahasiswa tidak perlu repot-repot membuat, tinggal satu kali klik dan kita dapat menemukan banyak karya ilmiah. Bagi pihak yang kontra, kebijakan Dikti terkesan ambigu karena tidak jelas karya ilmiah yang seperti apa yang dapat dimasukkan dalam jurnal. Belum lagi keterbatasan muatan jurnal tidak setara dengan jumlah lulusan dari masing-masing perguruan tinggi (berita di kolom pendidikan&kebudayaan, harian Kompas tanggal 6 Februari 2012). Lantas bagaimana dengan bidang studi yang belum memiliki jurnal yang mapan? Tentu akan sangat menyulitkan.

Meski demikian, kebijakan tersebut diakui sebagai cara efektif untuk menggugah semangat dan antusiasme mahasiswa dalam membudayakan menulis, utamanya menulis ilmiah. Penulisan karya ilmiah bagi sebagian orang memang dianggap rumit dan ketat, namun bukan tidak mungkin untuk tidak bisa dipelajari. Pembelajaran awal bisa ditanamkan ketika masa-masa awal menyandang status mahasiswa. Penugasan-penugasan berupa makalah, essay, laporan praktikum dapat menjadi metode pembelajaran yang cukup efektif agar mahasiswa terbiasa dengan penulisan karya ilmiah. Adanya keterbatasan masalah jurnal pun bukan menjadi kendala utama untuk menerbitkan suatu karya ilmiah, apalagi bagi yang belum memiliki jurnal ilmu tersendiri. Keberadaan jurnal on-line dapat menjadi salah satu sarana jika dalam terbitan jurnal fisik mengalami keterbatasan. Tentunya perlu disesuaikan dengan tema-tema agar tak serampangan dalam memasukkan judul-judul karya ilmiah mahasiswa. Sistem pembukuan, artinya tidak melalui jurnal, juga dapat dilakukan bagi karya-karya ilmiah yang memang layak dipasarkan.

Namun yang paling utama adalah penerapan karya ilmiah tersebut di masyarakat. Banyaknya tulisan tidak lantas menjadi indikator utama keberhasilan seorang akademisi jika belum di uji di lapangan. Masyarakat kita tidak hanya memerlukan tulisan, tapi juga butuh tindakan nyata untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi. Semoga kebijakan yang akan dimulai mulai Agustus 2012 nanti menjadi gerbang awal dalam membudayakan baca-tulis di kalangan akademisi yang kerapkali keasyikan berbicara tapi minim tulisan.

Wallahu’alam


Jalan-jalan, yuk!

Boleh dikatakan, hampir semua orang menyukai aktivitas yang satu ini. Jalan-jala alias rihlah. Ada sebagian melakukannya untuk mengusir kejenuhan, sebagian lagi karena memang sudah tuntutan tugas. Biasanya para awak media atau para pebisnis yang memiliki tingkat mobilitas lebih tinggi dari profesi lainnya. Tapi bagi saya, jalan-jalan bukan sekedar tugas dari seorang awak media, tapi juga pembangkit semangat dan pencarian inspirasi dari ayat-ayat Allah Swt. yang tersebar di penjuru bumi.

Bisa jadi, beberapa orang bilang, jalan-jalan hanya akan membuang waktu dan biaya. Tapi hal itu tidak akan dialami jika kita mampu memenej dengan baik perjalanan kita, dari perencanaan hingga evaluasi atas hasil yang kita dapatkan dari perjalanan kita. Sekedar kelelahan fisik saja?Atau justru kita membawa sejuta hikmah yang siap dibagi kepada kawan-kawan, entah lewat kreatifitas fotografi maupun tulisan menggugah? It depends on ourself.

Kerapkali ditengah kejenuhan aktivitas monoton perkulyahan, saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan. Yaa, meskipun hanya disekitar kampus atau ke Semarang bawah, yang penting bisa menghirup udara di luar, menikmati hiruk pikuk manusia dengan segala aktivitasnya. Hasilnya? Alhamdulillah selama ini ada banyak ide tulisan yang saya dapatkan dari jalan-jalan itu. Memang dimana saja saya terbiasa jalan-jalan?Tergantung budget. Ya iyalah… jangan asal jalan-jalan karna bisa-bisa yang kita hasilkan hanya buang-buang waktu, tenaga dan uang tentu saja. Biasanya saya membiasakan jalan-jalan ke toko buku langganan. Tapi yang ini tidak saya sarankan jika kantong kawan-kawan sedang cekak dan tidak bisa menahan hasrat untuk membeli buku, apalagi para penggila buku. Selain toko buku, tempat lain adalah bangunan-bangunan bersejarah. Melihat-lihat bangunan tua nan antik memang memberikan sensasi tersendiri, apalagi bagi para penggemar sejarah. Kita bisa sekaligus membayangkan suasana saat bangunan-bangunan tua itu masih berfungsi. Jika sedang berkantong tebal, tidak ada salahnya jalan-jalan ke luar kota, apalagi jika kita mendapatkan tugas untuk meliput kegiatan di luar kota ditambah dengan ongkos PP yang ditanggung pihak ketiga, sikat saja! Hal ini juga dengan pertimbangan tidak mengganggu prioritas kewajiban utama kita dan sudah mendapat restu orangtua, supaya tugas dan perjalanan kita menjadi lebih berkah.

Masih banyak lagi tempat untuk jalan-jalan yang full inspirasi, tapi saya tidak menyarankan ke mall-mall karena justru lebih banyak konsumtifnya daripada inspiratifnya. Bahkan saya pribadi menghindari toko buku yang satu atap dengan mall. Justru sangat merekomendasikan jalan-jalan di alam terbuka, mentadaburri ayat-ayat Allah Swt. lewat bentangan alam atau aspek sosial masyarakat sekitarnya.

Jangan lupakan juga ibadah wajib seperti sholat, karena sholat tidak jarang malah ditinggalkan ketika kita sedang jalan-jalan, apalagi jika perjalanan jarak jauh menggunakan kendaraan. Pergunakan kemudahan-kemudahan yang sesuai dengan syari’at, seperti tayammum, sholat di jamak maupun sholat di atas kendaraan. Semuanya sudah tersedia aturannya dalam buku-buku fiqh. Semoga perjalanan kita memperoleh keberkahan dan full inspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.aamiin…

Wallahu’alam


Guru (?)

Beberapa waktu yang lalu, saya disuguhi suatu artikel yang cukup menarik. Seputar pengalaman bersama makhluk ghaib, jin lebih tepatnya. Dan seketika, ingatan saya terlempar pada kejadian beberapa tahun silam, ketika saya masih duduk di bangku SMA. Masa-masa yang kata sebagian besar orang adalah masa-masa paling indah. Benarkah? Ah tidak juga. Justru masa-masa itu adalah masa jahiliyah bagi saya.

Saya punya kawan dekat, sebut saja namanya Sani. Saya kenal Sani sejak kami SMP. Bisa dibilang, dia anak yang aktif, tidak bisa diam, kritis, blak-blakan dan pintar. Pada awalnya tidak ada yang “istimewa” dari seorang Sani, sampai pada suatu ketika, dia sempat bercerita tentang hal-hal yang tidak mengenakkan. Kata salah satu kawan, Sani memiliki “kelebihan”, iya bisa melihat dunia yang tidak bisa di lihat manusia awam. Yah, pada awalnya saya juga tidak begitu peduli dengan “kelebihan” yang dimiliki Sani. Beberapa manusia juga pasti punya lah. Tapi hal itu menjadi terkesan berlebihan ketika kami berkenalan dengan salah satu guru di SMA. Kebetulan beliau salah satu dalang yang cukup fenomenal di kota kami. Sebut saja Pak Suro.

Di sekolah, Pak Suro memang terkenal killer ketika mengajar. Jika sedang ‘naik darah’ tidak jarang meja di kelas bisa melayang. Iya, saya tidak sedang becanda, kawan. Tapi dalam pergaulan sehari-hari, tidak sedikit siswa yang malah lengket dengan beliau lantaran beliau tidak pelit memberikan tips&trik belajar yang efektif. Beliau juga kerap mengundang murid-muridnya untuk berkunjung ke rumah. Berdiskusi hingga tengah malam, apa saja dibahas. Tak terkecuali Sani. Biasanya, tiap ahad, Sani sering mengajak saya (dan beberapa kawan dekat kami) untuk silaturahmi ke tempat Pak Suro. Bahkan, kami sempat membuat semacam event baksos dan pengobatan alternatif gratis di sebuah dusun di kabupaten tegal. Kata Pak Suro, sebagai persiapan kami untuk terjun ke masyarakat. Yah bisa dibilang pembelajaran yang positif.

Hari demi hari, saya (dan tentu saja Sani) jadi kenal dekat dengan Pak Suro dan keluarganya. Istri Pak Suro bahkan tidak segan berbagi cerita keseharian Pak Suro yang ternyata sarat dengan hal-hal mistis. Kalo’ kata bapak saya, namanya juga dalang, ya begitulah kehidupannya. Tapi ada sisi hati saya yang membantah, tapi beliau juga kerapkali menyebut diri sebagai ulama, bahkan wayangnya saja disebut wayang santri. Kenapa masih bersentuhan dengan klenik, apalagi koleksinya juga keris. Baru setelah kuliah, saya dipahamkan tentang istilah Islam Kejawen.

Pak Suro seringkali meminjami Sani buku-buku yang memang mengarah ke aliran kebatinan. Sufi Jawa, katanya. Bahkan, dalam suatu mabit, beliau pernah diundang untuk mengisi dan sempat berdebat keras dengan salah satu kawan kami yang kebetulan pengurus rohis. Oiya, Sani juga salah satu aktivis rohis. Hanya saja ya itu, pandangan dia tentang Islam berbeda jauh dengan yang lain. Nyleneh kata kawan2 rohis.

Tidak hanya dengan Pak Suro, yang sudah dianggap Sani sebagai guru spiritualnya, ada juga kenalan lain dari Kuningan. Sebut saja mas Zein. Mas Zein ini sudah berkeluarga juga. Saya pribadi tidak begitu paham pekerjaan tetapnya apa. Yang jelas, mas Zein seringkali membantu Sani (kadangkala aku) dalam hal-hal ghaib. Pengiriman barang-barang untuk Sani pun dilakukan dengan cara ghaib. Sani pesan apa ke mas Zein, malamnya barang itu sudah ada di tangan.

Yah, intinya, kawan saya itu bukannya ingin sembuh, malah jadi “dimanfaatkan” pihak tertentu dengan “kelebihan” yang dimiliki. Pernah suatu kali, dia di ruqyah di sebuah pesantren. Setiap kali ruqyah, hasilnya memang mengerikan. Kata ustadzahnya, jin yang ada di tubuh Sani tidak mau pergi. Dalam hati saya, ya pantaslah wong aktivitasnya juga sering bersentuhan dengan orang-orang per-klenik-an. Sejak saat itu, ia menjadi enggan untuk di ruqyah.

Sejak saya meneruskan studi di kota pelajar, komunikasi saya dengan Sani menjadi jarang. Hanya mendengar kabar dari teman-teman kalo’ dia sudah berkeluarga. Yah, semoga saja dia sudah lepas dari dunia per-klenik-an.

Satu hal yang saya syukuri, meskipun saya berkawan dekat dengan Sani, tapi saya tidak pernah sedikit pun tertarik dengan dunia kejawen yang dalam pandangan saya tidak lepas dari unsur syirik. Sosok guru pun tidak selamanya menjadi di gugu lan di ditiru kalo’ persoalannya sudah menjalar ke aqidah. Diperlukan sikap hati-hati dan ketelitian ketika kita hendak menjadikan seseorang itu guru spiritual kita. Apakah ia masih memegang betul syari’at atau malah sudah melenceng jauh. Tidak mau khan kalo’ guru kita ternyata nyemplung ke neraka, lantas kita juga ikut2an nyemplung karena asal ngikut saja?Hm?

Wallahu’alam…